Header Ads

Perang Candu (Perang Paderi) Part II

loading...
loading...






Jalur perdagangan dari pantai Barat ke daratan Minangkabau dan sebaliknya  ialah;
1.    Air Bangis Ujung Gading.. Dari Ujung Gading menyebar keseluruh Pasaman.. Jalur perdagangan ini juga penting sebab melayani daerah yang luas dari Ujung Gading, Simpang empat, Talu Panti dan Rao..
2.    Katiagan melalui sungai Masang ke nagari nagari pinggir batang Masang sampai Kumpulan dan Bonjol.. Perdagangan di Katiagan tidak  begitu penting dan maju..
3.    Tiku memasuki nagari disekitarnya dan melalui batang Antokan Maninjau Data Munti Palembayan,  Palupuah.. Perdagangan melalui jalur ini agak lumayan ramai..
4.    Nareh Ulu Banda, Malalak, IV Koto dataran tinggi Agam.. Jalur perdagangan ini lumayan ramai..
5.    Pariaman Sintuak Sicincin, Asam Pulau, Bukik Punggung Jawi,  Jaho adalah jalur dagang yang agak besar diawasi dan di kuasai oleh Dt Pamuncak Alam Sati Tuang Gadang Batipuah bersama Dt Kali Marajo Pucuak adat Pariangan..
6.    Padang, Pauh, Gantung Ciri Solok.. Jalur ini termasuk yang cukup ramai.. Kadang kadang sulit dilalui karena orang Pauh sangat memusuhi Belanda..
7.    Padang, Koto Tangah, Lubuk Minturun, Saniang Baka Sumani adalah jalan dagang yang sering dipakai keluarga Pagaruyung, pucuak adat Singkarak...
8.    Painan Banda Sapuluah dibawa ke Solok Selatan.. Jalur dagang ini  sangat sulit dilalui dan tidak sering dipakai..
9.    Indro puro Kerinci.. Jalur dagang tersendiri  tidak banyak di pakai ...      

 
Sembilan jalur perdagangan antara Minangkabau darek dan pasisia.. Jalur perdagangan ini adalah jalur pemasuk kampher, lada, emas dan kopi, dari darat ke pantai barat..


 Selain itu perdagangan gelap yang banyak dibawa Belanda ialah tuak, candu, santo dan mereka sering meramaikan judi dimana mereka bermukim.. Dalam perdagangan ini  banyak Belanda dibantu oleh orang Cina, terutama untuk perdagangan tuak, candu, santo dan judi.. Mulai pertengahan abad ke 18 M, dengan banyaknya Belanda membeli kopi per dagangan dari darek (pusat Minangkabau) dengan pantai barat menjadi ramai.. Bersamaan dengan itu perdagngan tuak, candu santo dan perjudian menjadi ramai.. 

  Tuak ialah istilah asli Minangkabau dan Batak untuk minuman yang memabukkan.. Sebagaimana dinegeri cina terjadi perang candu karena banyaknya bangsa Eropah memasok candu kenegeri itu.. Atas kesadaran pemimpin Cina dia perangilah setiap anasir yang terkait dengan cantu perdagangannya, termasuk Inggeris yang membawanya.. Ke Amerika orang Eropah (terutama Inggeris)  memasok banyak sekali minuman keras.. Orang Indian menamakan minuman keras itu minuman api.. Orang Indian menjadi bangsa yang pemabuk.. Orang orang yang pemabuk itu menjadi kurang pertimbangan, kesukaannya merampok, memerkosa dan menganiaya..  Orang orang yang telah kecanduan tidak sadar atas kerusakan jiwanya dan kerusakan karena perbuatannya.. Setiap perbuatannya yang buruk itu dianngapnya baik.. Sadar atas kerusakan yang menimpa bangsannya, banyak raja raja Indian seperti Winnetou yang menentang pemasukan minuman api ini kedaerahnya..
Begitu juga di Minangkabau.. Bangsa Belanda banyak sekali memasok  tuak, candu dan santo, serta meramaikan judi.. Bagi Belanda dari perdagangan tuak, candu, santo dan perjudian adalah pemasukan keuangan yang sangat besar.. Tembakau (tobacco)  mereka namakan santo.. Santo bahasa Sepanyol berarti barang yang suci dekat kepada tuhan dan dapat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.. Dalam bahasa Inggeris dan Belanda disebut Santa seperti santa Maria , santa Paulus, santa Peterus dll..   Mengisap tembakau yang tingi kadar nikotinnya dapat memabukkan orang, sama seperti ganja.. Kata Belanda  orang yang mabuk akibat santo itu sedang berada dekat tuhan.. Pemakaian santo dibakar asapnya dihirup dalam dalam kedalam paru-paru.. Perempuan disuruhnya meminum air santo itu.. Ampasnya diselipkan antara gigi dengan bibir.. Pebuatan ini disebut bersugi.. Lelaki yang mengisp tembakau yang mahal dan perempuan yang besugi dianggap lebih mulia.. Santo baik untuk hubungan silatur rahim antara sesama manusia dan pembuka permulaan kata dalam beradat..  Karena pengaruh Belanda itu, sampai sampai masyarakat Minangkabau menjadikan santo ini sarana adat dan sarana bersilahtur rahmi dalam pergaulan.. Lama lama Belanda menganjurkan santo itu ditanam di Indonesia, di ekport keluar negeri.. Pusat pasar tobacco Indonesia ialah Bremen Jerman..
Tobacco atau santo itu tanaman belukar tingginya hanya satu meter, daunnya lebar.. Cara pemeliharaannya ditanam berderet deret, setinggi satu meter dipotong.. Semua cabang yang tumbuh (carang) dibuang.. Daun dituakan, digulung, disayat kecil kecil, dijemur, diembunkan.. Daun sebelah bawah disebut tapak, diatasnya disebut jalua, diatas lagi disebut pucuak.. Santo tapak harganya lebih murah.. Jalua harganya paling tinggi pucuak harga yang menengah.. Pembuatan ketiga tingkat daun itu dipisah.. Orang yang sudah mengerti dengan santo, dengan mengisapnya mengetahui mana yang tapak, mana yang jalua dan mana yang pucuak.. Makin sedikit daun yang dipelihara makin tinggi nilai santo itu.. Tinggi rendah nilai santo bergantung kadar nikotine yang ada dalam santo itu..    
Semenjak awal abad ke 18 M, di nagari nagari pantai Minangkabau tuak, candu dan santo telah memasyarakat.. Dimana mana di kedai kedai kecil dipelosok Nagari telah dapat dibeli barang haram tersebut.. Orang orang yang dekat dengan Belanda merasa belum mulia jika dirumahnya belem tersedia minuman keras (tuak).. Masyarakat yang dekat dengan Belanda merasa belum dewasa dan mulya jika belum biasa meminum tuak..  Perdagangan candu, tuak dan santo dari nagari nagari pantai ke pusat Minangkabau menjadi  ramai.. Pedagang pedagang tuak menjadi bandar judi.. Para pemabuk menjadi pejudi, perampok, pemerkosa isteri orang dan pembunuh..  Di kota kota dimana ada Belanda diadakan rumah judi yang disebut rumah bola.. Di Bukitinggi rumah bola itu dibangun dekat gereja.. Di Padang dibangun dipantai Muaro.. Karena kemarahan Allah rumah bola (rumah judi) di pantai Padang itu ditelan oleh ombak.. Beberapa ratus meter pantai sekitar rumah bola itu  ikut  di erosi oleh ombak..
Karena adanya perjanjian dagang dengan Belanda, Belanda memonopoli perdagangan itu.. barang produksi masyarakat yang dijual kepada Belanda harganya sudah sangat murah jika dibandingkan dijual kepada pihak Aceh dan bangsa lainnya.. Barang yang dibeli kepada Belanda harganya sudah sangat tinggi jika dibandingkan dengan membeli kepada pihak Aceh atau bangsa lainnya.. Kita orang Minangkabau tepaksa membeli dan menjual kepada Belanda karena adanya perjanjian tersebut..  
Pedagang dan pemakai tuak, candu, santo mengelompok merasa satu kesatuan yang se idiologi secara sembunyi sembunyi akhirnya mereka berterang terangan.. Mereka membuat post gelap pada daerah jalur perdagangan yang  lengang.. Pada tempat itu mereka melakukan perampokan barang dagangan yang lewat, membunuh bahkan menangkap orang orang.. Orang yang mereka tangkap mereka jual kepada bangsa asing sebagai budak..  Selain dari dibantu dealer tuak dan Belanda,  mereka juga minta bantuan kepada pucuak adat dan keluarga Kesulthanan  Minangkabau dengan melakukan sogok dan bantuan keuangan.. Dt Pamuncak Alam Sati (Tuan Gadang Batipuah) dan Dt Kali Marajo (Pucuak Adat Pariangan), Sutan Alam Bagagar Syah  bersama St Rajo Alam dan St Tangsir (anggota kaum Sulthan Minangkabau) ikut membantu mereka.. Hampir seluruh pucuak adat sekitar danau Singkarak seperti  Malalo, Saniang Baka, Singkarak,  Pitalah, Gunuang Rajo, Sumpur, orang yang biasa berdagang ke Padang dapat mereka yakinkan membantu perdagangan tuak..  Jalur perdagangan yang biasa dipakai oleh Bagagar Syah  ialah Saniang Baka Lubuak Minturun.. Jalur perdagangan Jaho Sicincin dikuasai oleh Dt Pamuncak Alam Sati dan Dt Kali Marajo.. Kedua jalur perdagangan itu  menjadi jalur perdagangan  tuak, candu, santo yang paling utama.. Jumlah orang yang berpihak mereka dibanding jumlah penduduk sangat sedikit, tapi mereka didukung oleh Belanda dan distributor pedagang tuak, candu, santo, mereka menjadi sangat kuat..    Mereka pedagang tuak, candu, santo dan judi kita sebut Kelompok Pedagang Tuak (KPT).

Masyarakat Minangkabau telah berabad abad, (semenjak awal abad ke 15 M)   telah meninggalkan  tuak, candu dan judi.. Pelarangannya  dituangkan dalam undang adat Minangkabau dalam Undang Nan Salapan, sebagai kesalahan besar..
Adat yang berlaku di Tanah data adalah sistem Koto Piliang.. Penghulu Andiko tak berani membantah atau melawan kepada penghulu pucuak..  Penghulu pucuak yang terlibat perdagangan tuak, terpaksa  didiamkan saja oleh penghulu andiko.. Apalagi kalau yang terlibat itu keluarga Kesulthanan Pagaruyung..

Pemerintahan Minangkabau terdiri dari Rajo Nan Tigo Selo, Rajo Alam di Pagaruyung, Rajo Adat di Buo dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus.. Abdul Jalil Rajo adat di Buo seorang yang ^Alim, dipanggilkan Tuanku Buo atau Tuanku Sembayang.. Beliau konsekwen dengan Undang Nan Salapan.. Beliau selalu mengatakan memakai dan memperdagangkan tuak, candu, santo dan judi termasuk kesalahan besar dalam adat.. Orang yang melakukan perbuatan itu harus dihukum menurut adat.. Isteri Tuanku Buo Puti Reno Aluih adalah Bundo Kanduang, anak dari puti Reno Bulan.. Puti Reno Bulan adalah Bundo Kanduang saudara seibu dengan DYD Sulthan Muningsyah III Sulthan yang syah dan telah dilewakan sebagai Sulthan Minangkabau.. Bapak Tuanku Buosaudara lain ibu dengan DYD Muningsyah III.. Menurut adat DYD Muningsyah adalah Bako Tuanku Buo
 Tuanku Buo mempunyai seorang pembantu tuanku Lintau.. Tuanku Lintau terjun kedepan sebagai orang yang sangat anti dengan pemakaian dan perdagangan tuak, candu, santo dan judi..

Masyarakat Agam adatnya Budi Caniago seluruh Pengulu Saandiko.. Masyarakat menyatu dalam Tungku Tigo Sajarangan Niniak Mamak (Penghulu kaum), ^Alim ULama dan Cadiak Pandai.. Prihatin atas  kondisi  masyarakat telah banyak yang berdagang dan memakai tuak, candu,santo dan judi, serta jalur dagang yang lengang dari Agam ke pantai barat telah banyak terjadi perampokan perampokan.. Menurut hasil penelitian mereka perampokan dan pemerkosaan dilakukan kelompok pejudi, pemakai dan pedagang tuak, candu dan santo.. Mereka didukung oleh dealer tuak, candu, santo dan Bandar judi.. Bandar besar tuak kebanyakan mereka  bangsa Cina.. Mereka juga didudukung oleh Belanda..
Masyarakat Agam melakukan mufakat mufakat untuk membanteras perdagangan dan pemakaian barang haram tersebut dan perbuatan judi.. Selain itu barang hasil masyarakat dibeli Belanda terlampau murah jika dibandingkan dengan menjalnyanya secara bebas kepada pihak lain, membeli barang kepada Belanda terlampau mahal jika dibandingkan membelikepada pihak lain secara bebas.. Terdapat kesepakatan perdagangan pemakaian, barang haram tuak, candu, santo dan judi harus dibanteras..  Perjanjian monopoli dagang dengan Belanda harus dibatalkan..

melakukan  barang haram, jalur dagang dari Agam    Pimpinan masyarakat yang terdiri dari kaum adat dan kaum ulama dan cadiak pandai yang ingin menegakkan adat nan basandi sarak melakukan pertemuan pertemuan dan didapat kesepakatan, Adat Nan Basandi Syara’ sesuai dengan aundang Nan Salapan harus ditegakkan.. Perdagangan, pamakaian  dan pinyimpanan Tuak, Candu, santo dan judi harus di basmi.. Kita harus melakukan persiapan persiapan untuk pembasmian itu.. Kepada pucuak adat Tanahdata disarankan agar mendesak DYD Sulthan Pagaruyung mengadakan sidang Rajo Nan Tigo Selo menetapkan peraturan tambahan dari Undang Nan Salapan untuk menumpas perdagangan, pemakaian dan penyimpanan tuak, candu, santo dan judi.. Mereka juga menolak adanya perjanjian dagang monopoli dengan Belanda..
Jika tidak berhasil menerbitkan aturan penumpasan tuak,candu, santo dan judi,  dengan memakai Undang Nan Salapan kita tetap melakukann razia razia, dan pemeriksaan serta pembinasaan terhadap barang haram tersebut.. Kelompok masyarakat inilah yang terbesar pengikutnya.. Kelompok ini disebut kelompok  Masyarakat Adat Basandi Sarak (Kelompok MAS).. Puti Reno Aluih anak dari Puti Reno Bulan (Puti Reno Bulan adalah saudara kandung saudara seibu dengan DYD Sulthan Muningsyah III) adalah kemenakan kontan (kemenakan dibawah daguak) dari DYD Muningsyah III.. Puti Reno Aluih adalah isteri Tuanku Buo, Rajo adat di Buo, Tuanku BUo, Puti Reo A;uih dan Rajo ibadat di sumpur kudus  adalah pendukung utama kelompok MAS ini.. Sebagian masyarakat Agam, dan Pasaman, sebagian masyarakat Tanahdata dari Tabek Patah sampai Sumpurkudus Buo dan Lintau, sebagian luak Limopuluah Koto termasuk dalam kelompok ini 


Next ---> Perang Tuak Part III
Sumber : Minangkabau Darul Qarar : karya H.Asbir. Dt Rajo Mangkuto 

.. 
loading...

No comments